Teknologi Informasi dan komunikasi di bidang pertanian sangat penting, contohnya saja pada saat penyuluhan. Seperti dengan dilengkapinya akses internet di Balai Penyuluhan Pertanian, hal ini akan memudahakan petani memperoleh informasi berupa inovasi teknologi dan kelembagan yang dibutuhkannya dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat tani yang menjadi tugas pokok, fungsinya serta tanggung jawabnya.Penyuluhan Pertanian di Era Kemerdekaan Indonesia saat ini terpaut 20 tahun ke belakang dari segi waktu dengan Penyuluhan Pertanian di Jepang, namun dengan kondisi yang berbeda yakni Jepang baru saja kalah perang versus Indonesia yang baru merdeka. Penyuluhan mulai diintensifkan sejak awal tahun 1970-an, dengan pendekatan terpadu penyediaan sarana pendukung, pengiolahan dan pemasaran hasil, serta dukungan finansial di satu sisi, dan menarik dukungan struktur pedesaan progresif di sisi lainnya. Pandekatan ini lazim disebut dengan Bimbingan Massal (Bimas) yang disempurnakan dengan Wilayah Unit Desa (Wilud), mengacu kepada Grand Teori A. T. Mosher tentang Pembangunan Pertanian.
Perangkat kelembagaanya kemudian lebih disempurnakan dengan lahirnya dan berperannya organisasi dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian pada tahun1977 (efektif tahun 1978) yang berbasisi secara lokal/kecamatan pada setiap Kabupaten/Kota, dan Balai Informasi Pertanian (BIP) yang keberadaannya melayani informasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah propinsi. BPP sebagai home basenya Penyuluh Pertanian, sebagai konsumen informasi, dan BIP sebagai produsen dan pelayan informasi. Peran optimal Penyuluhan Petanian dan perangkat pendukungnya diyakini banyak pakar pertanian telah menyumbang 60% pencapaian swasembada beras kita pada tahun 1984 yang lalu.
Kini di Era Komunikasi Global dimana perangkat Teknologi Informasi berupa internet yang semarak dengan penyelenggara komersial berupa Warung Internet (Warnet), bukan lagi barang asing. Terlebih lagi, perangkat Teknologi Informasi pada tingkat Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai-Balai Penelitian dan Pengembangan Komoditas Pertanian sebagai penghasil inovasi teknologi pertanian, juga telah memadai. Di tingkat wilayah saat ini terdapat 30 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), perangkat organisasi Badan Litabang Pertanian yang mengakuisisi peran Balai Informasi Pertanian tempo dulu, berperan sebagai penghasil Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi, sekaligus memberikan contoh diseminasinya, kini juga dilengkapi dengan perangkat Teknologi Informasi.
Dengan demikian, perangkat pemerintah pusat dan sumber-sumber inovasi teknlogi, termasuk perangkatnya di wilayah pengembangan pertanian nampaknya siap berperan tanpa hambatan (contoh terbaru lahirnya Website Prima Tani). Karena itu, saatnya perhatian dan upaya penyediaan perangkat Teknologi Informasi diarahkan kepada pengguna inovasi teknologi secara lokal kabupaten dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), yang bersentuhan langsung dengan berjuta petani yang haus akan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan pedesaan progresif, melengkapi sistem, media dan metode penyuluhan konvensional kita saat ini yang sedang bergelut dengan peningkatan kinerjanya.
Perangkat kelembagaanya kemudian lebih disempurnakan dengan lahirnya dan berperannya organisasi dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian pada tahun1977 (efektif tahun 1978) yang berbasisi secara lokal/kecamatan pada setiap Kabupaten/Kota, dan Balai Informasi Pertanian (BIP) yang keberadaannya melayani informasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah propinsi. BPP sebagai home basenya Penyuluh Pertanian, sebagai konsumen informasi, dan BIP sebagai produsen dan pelayan informasi. Peran optimal Penyuluhan Petanian dan perangkat pendukungnya diyakini banyak pakar pertanian telah menyumbang 60% pencapaian swasembada beras kita pada tahun 1984 yang lalu.
Kini di Era Komunikasi Global dimana perangkat Teknologi Informasi berupa internet yang semarak dengan penyelenggara komersial berupa Warung Internet (Warnet), bukan lagi barang asing. Terlebih lagi, perangkat Teknologi Informasi pada tingkat Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai-Balai Penelitian dan Pengembangan Komoditas Pertanian sebagai penghasil inovasi teknologi pertanian, juga telah memadai. Di tingkat wilayah saat ini terdapat 30 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), perangkat organisasi Badan Litabang Pertanian yang mengakuisisi peran Balai Informasi Pertanian tempo dulu, berperan sebagai penghasil Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi, sekaligus memberikan contoh diseminasinya, kini juga dilengkapi dengan perangkat Teknologi Informasi.
Dengan demikian, perangkat pemerintah pusat dan sumber-sumber inovasi teknlogi, termasuk perangkatnya di wilayah pengembangan pertanian nampaknya siap berperan tanpa hambatan (contoh terbaru lahirnya Website Prima Tani). Karena itu, saatnya perhatian dan upaya penyediaan perangkat Teknologi Informasi diarahkan kepada pengguna inovasi teknologi secara lokal kabupaten dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), yang bersentuhan langsung dengan berjuta petani yang haus akan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan pedesaan progresif, melengkapi sistem, media dan metode penyuluhan konvensional kita saat ini yang sedang bergelut dengan peningkatan kinerjanya.
Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pertanian
Komunikasi secara asertif, efektif dan etis ialah menganalisis dan mengembangkan solusi atas masalah-masalah terkait dengan pembangunan pertanian.
Agar dapat menganalisis secara kritis keefektifan pengelolaan komunikasi dalam mengembangkan solusi atas masalah-masalah terkait dalam pembangunan pertanian agar mampu menganalisis penerapan dan pengembangan media dan teknik komunikasi secara tepat terkait dalam pembangunan pertanian.
Saat ini banyak sekali usaha kecil menengah (UKM) bidang pertanian bermunculan di Indonesia. Hal ini sangat berdampak positif bagi perekonomian global di Indonesia maupun juga dalam rangka meningkatkan daya saing dalam bidang penyediaan produk atau jasa di segala bidang. Contoh UKM disini bisa berbagai macam, mulai dari usaha agroindustri dan membuka usaha penjualan komoditas pertanian
misalnya penggunaan internet sebagai media teknologi informasi dalam menunjang UKM bidang pertanian bisa dijabarkan menjadi beberapa poin seperti berikut ini:
Komunikasi
Internet digunakan sebagai media komunikasi dengan berbagai pihak. Misalnya disini antara UKM bidang pertanian dengan supplier. Pemiliknya bisa menggunakan e-mail kepada supplier komoditas pertanian misalnya untuk melakukan order atau sebaliknya pihak supplier yang melakukan komunikasi dengan UKM pertanian. Komunikasi disini bisa bermacam-macam, salah satu yang sudah dibahas tadi misalnya penggunaan e-mail. saya melihat adanya perusahaan pertanian yang sudah menggunakan Yahoo! Messenger untuk melakukan negosiasi dengan calon pembeli.
Promosi
Ini maksudnya internet digunakan sebagai sarana promosi jasa atau produk yang ditawarkan oleh UKM bidang pertanian tersebut. Sebagai contoh misalnya UKM tersebut bisa mempromosikan produknya melalui website atau juga melalui mailing list. media mailing list merupakan yang paling efektif untuk menawarkan jasa atau produk.
mailing list adalah suatu forum diskusi berbasis e-mail mengenai suatu topik tertentu. Orang-orang atau pihak-pihak yang tergabung dalam suatu mailing list tertentu biasanya mempunyai satu kesamaan tujuan dan juga kesamaan minat tertentu.
namun kendalanya ialah masih banyak petani-petani di indonesia yang tidak mengerti tentang perkembangan zaman terutama penggunaan ict. belum lagi jangkauan akses teknologi yang dapat di jangkau hanya bagian tertentu saja. hal inilah yang menjadi kendala dan menurut saya mengakibatkan kurang efisiensinya dan lambatnya pembangunan di indonesia.
padahal dengan penggunaan IT ini menurut saya dapat menjadi indikator pemecahan panjangnya rantai pemasaran yang ada di indonesia yang hingga sampai saat ini belum ditemukannya jalan yang pas untuk keluar dari masalah tersebut.
Pertumbuhan aksesibilitas teknologi informasi menghasilkan alat baru yang diperlukan bagi petani guna terciptanya kolaborasi. Hal ini membantu petani untuk berpartisipasi dalam inovasi dan pencarian akan kemakmuran individu. setiap individu-individu terus meraih kemakmuran melalui kerja yang menghasilan inovasi-inovasi tiada henti.
petani pun berhak untuk menggapai apa yang ia inginkan bila ia memiliki akses internet. ICT membuat kita merasa tidak ada yang tidak dapat kita ketahui tatkala orang lain tahu.
Ada yang melihat kemunculan ICT merupakan ancaman bagi keberadaan perusahaaan-perusahaan besar yang memiliki modal yang besar. Tentu saja ini merupakan ancaman karena dengan adanya network pertanian, tidak ada lagi yang mampu dimonopoli. dengan adanya ict mampu menciptakan komunitas-komunitas petani yang kreatif dalam melakukan inovasi-inovasi.(Sumber: http://caswarina.blogspot.com/2009/12/peran-informasikomuniaksi-dan-teknologi.html)
Agar dapat menganalisis secara kritis keefektifan pengelolaan komunikasi dalam mengembangkan solusi atas masalah-masalah terkait dalam pembangunan pertanian agar mampu menganalisis penerapan dan pengembangan media dan teknik komunikasi secara tepat terkait dalam pembangunan pertanian.
Saat ini banyak sekali usaha kecil menengah (UKM) bidang pertanian bermunculan di Indonesia. Hal ini sangat berdampak positif bagi perekonomian global di Indonesia maupun juga dalam rangka meningkatkan daya saing dalam bidang penyediaan produk atau jasa di segala bidang. Contoh UKM disini bisa berbagai macam, mulai dari usaha agroindustri dan membuka usaha penjualan komoditas pertanian
misalnya penggunaan internet sebagai media teknologi informasi dalam menunjang UKM bidang pertanian bisa dijabarkan menjadi beberapa poin seperti berikut ini:
Komunikasi
Internet digunakan sebagai media komunikasi dengan berbagai pihak. Misalnya disini antara UKM bidang pertanian dengan supplier. Pemiliknya bisa menggunakan e-mail kepada supplier komoditas pertanian misalnya untuk melakukan order atau sebaliknya pihak supplier yang melakukan komunikasi dengan UKM pertanian. Komunikasi disini bisa bermacam-macam, salah satu yang sudah dibahas tadi misalnya penggunaan e-mail. saya melihat adanya perusahaan pertanian yang sudah menggunakan Yahoo! Messenger untuk melakukan negosiasi dengan calon pembeli.
Promosi
Ini maksudnya internet digunakan sebagai sarana promosi jasa atau produk yang ditawarkan oleh UKM bidang pertanian tersebut. Sebagai contoh misalnya UKM tersebut bisa mempromosikan produknya melalui website atau juga melalui mailing list. media mailing list merupakan yang paling efektif untuk menawarkan jasa atau produk.
mailing list adalah suatu forum diskusi berbasis e-mail mengenai suatu topik tertentu. Orang-orang atau pihak-pihak yang tergabung dalam suatu mailing list tertentu biasanya mempunyai satu kesamaan tujuan dan juga kesamaan minat tertentu.
namun kendalanya ialah masih banyak petani-petani di indonesia yang tidak mengerti tentang perkembangan zaman terutama penggunaan ict. belum lagi jangkauan akses teknologi yang dapat di jangkau hanya bagian tertentu saja. hal inilah yang menjadi kendala dan menurut saya mengakibatkan kurang efisiensinya dan lambatnya pembangunan di indonesia.
padahal dengan penggunaan IT ini menurut saya dapat menjadi indikator pemecahan panjangnya rantai pemasaran yang ada di indonesia yang hingga sampai saat ini belum ditemukannya jalan yang pas untuk keluar dari masalah tersebut.
Pertumbuhan aksesibilitas teknologi informasi menghasilkan alat baru yang diperlukan bagi petani guna terciptanya kolaborasi. Hal ini membantu petani untuk berpartisipasi dalam inovasi dan pencarian akan kemakmuran individu. setiap individu-individu terus meraih kemakmuran melalui kerja yang menghasilan inovasi-inovasi tiada henti.
petani pun berhak untuk menggapai apa yang ia inginkan bila ia memiliki akses internet. ICT membuat kita merasa tidak ada yang tidak dapat kita ketahui tatkala orang lain tahu.
Ada yang melihat kemunculan ICT merupakan ancaman bagi keberadaan perusahaaan-perusahaan besar yang memiliki modal yang besar. Tentu saja ini merupakan ancaman karena dengan adanya network pertanian, tidak ada lagi yang mampu dimonopoli. dengan adanya ict mampu menciptakan komunitas-komunitas petani yang kreatif dalam melakukan inovasi-inovasi.(Sumber: http://caswarina.blogspot.com/2009/12/peran-informasikomuniaksi-dan-teknologi.html)
APLIKASI
TIK DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN YANG BERKELANJUTAN
Istilah pembangunan berkelanjutan
pertama kali muncul pada tahun 1980 dalam World Conservation Strategy dari
the International Union for the Conservation of Nature (IUCN), lalu pada tahun 1981 dipakai
oleh Lester R. Brown dalam buku Building a Sustainable Society (Keraf
2002). Istilah tersebut kemudian menjadi sangat populer ketika pada
tahun 1987 World Commision on Environment and Development atau dikenal
sebagai Brundtland Commision menerbitkan buku berjudul Our Common
Future (Fauzi 2004). Tahun 1992 merupakan puncak dari proses
politik yang akhirnya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de
Janeiro, Brasil, paradigma pembangunan berkelanjutan diterima sebagai sebuah
agenda politik pembangunan untuk semua negara di dunia (Keraf 2002).
Konsep berkelanjutan merupakan konsep
yang sederhana namun kompleks, sehingga pengertian keberlanjutan pun sangat
multi-dimensi dan multi-interpretasi. Karena adanya multi-dimensi dan
multi-interpretasi ini, para ahli sepakat untuk sementara mengadopsi pengertian
yang telah disepakati oleh Komisi Brundtland yang menyatakan bahwa “pembangunan
berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini
tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka”
(Fauzi 2004). Konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua dimensi,
yaitu dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang akan
terjadi di masa mendatang, dan dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan
sistem sumber daya alam dan lingkungan (Heal 1998 dalam Fauzi 2004).
Pezzey melihat aspek
keberlanjutan dari sisi yang berbeda.
Keberlanjutan memiliki pengertian statik dan dinamik.
Keberlanjutan statik diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam
terbarukan dengan laju teknologi yang konstan, sementara keberlanjutan dinamik
diartikan sebagai pemanfaatan sumber daya alam yang
tidak terbarukan dengan tingkat teknologi yang terus berubah. Adapun Haris
melihat bahwa konsep keberlanjutan dapat diperinci menjadi tiga aspek
pemahaman (Fauzi 2004), yaitu:
1.
Keberlanjutan ekonomi, yang diartikan
sebagai pembangunan yang mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu
untuk memelihara keberlanjutan pemerintahan dan menghindari terjadinya
ketidakseimbangan sektoral yang dapat merusak produksi pertanian dan industri.
2.
Keberlanjutan lingkungan: Sistem yang
berkelanjutan secara lingkungan harus mampu memelihara sumber daya yang
stabil, menghindari eksploitasi sumber daya alam dan
fungsi penyerapan lingkungan. Konsep ini juga menyangkut pemeliharaan
keanekaragaman hayati, stabilitas ruang udara dan fungsi ekosistem lainnya yang
tidak termasuk kategori sumber-sumber ekonomi.
3.
Keberlanjutan sosial: Keberlanjutan
secara sosial diartikan sebagai sistem yang mampu mencapai kesetaraan,
menyediakan layanan sosial termasuk kesehatan, pendidikan, gender dan
akuntabilitas politik.
Menurut Munasinghe (1993),
pembangunan berkelanjutan mempunyai tiga tujuan utama, yaitu: tujuan ekonomi (economic objective), tujuan ekologi (ecological objective) dan tujuan
sosial (social objective).
Tujuan ekonomi terkait dengan masalah efisiensi (efficiency) dan pertumbuhan (growth); tujuan ekologi terkait dengan masalah konservasi sumber daya alam
(natural resources conservation);
dan tujuan sosial terkait dengan masalah pengurangan kemiskinan (poverty) dan pemerataan (equity). Dengan demikian, tujuan
pembangunan berkelanjutan pada dasarnya terletak pada adanya harmonisasi antara
tujuan ekonomi, tujuan ekologi dan tujuan sosial.
Menurut Technical
Advisorry Committee of the CGIAR (TAC-CGIAR 1988), “pertanian berkelanjutan
adalah pengelolaan sumber daya
yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang
berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan
melestarikan sumber daya
alam” (pengelola usaha tani yang memiliki tingkat keberdayaan berkelanjutan).
Diharapkan pertanian yang berkelanjutan akan menghasilkan pula petani yang
berdaya secara berkelanjutan pula. Ciri-ciri pertanian berkelanjutan adalah
sebagai berikut:
1. Mantap secara ekologis,
yang berarti kualitas sumber daya
alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan–dari manusia,
tanaman, dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan. Dua hal ini akan
terpenuhi jika tanah dikelola serta kesehatan tanaman dan hewan serta
masyarakat dipertahankan melalui proses biologis (regulasi sendiri). Sumber daya lokal digunakan secara
ramah dan yang dapat diperbaharui.
2. Dapat berlanjut secara ekonomis,
yang berarti petani mendapat penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan,
sesuai dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan dan dapat melestarikan sumber daya alam dan
meminimalisasikan risiko.
3. Adil, yang berarti sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa
sehingga keperluan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi dan begitu
juga hak mereka dalam penggunaan lahan dan modal yang memadai dan bantuan
teknis terjamin. Masyarakat berkesempatan untuk berperanserta dalam pengambilan
keputusan di lapangan dan di masyarakat.
4. Manusiawi, yang
berarti bahwa martabat dasar semua makhluk hidup (manusia, tanaman, hewan)
dihargai dan menggabungkan nilai kemanusiaan yang mendasar (kepercayaan,
kejujuran, harga diri, kerjasama, rasa sayang) dan termasuk menjaga dan
memelihara integritas budaya dan spiritual masyarakat.
5. Luwes, yang
berarti masyarakat desa memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usahatani yang berlangsung terus,
misalnya, populasi yang bertambah, kebijakan dan
permintaan pasar.
Dalam
“World
Summit on the Information Society five years on: Information and communications
Technology for Inclusive Development” (ESCAP 2008) dinyatakan bahwa wilayah Asia-Pacific menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi
target tujuan pembangunan pada millennium pertama (antara tahun
1990 dan 2015), sejumlah penduduk menderita karena kelaparan. Keberlanjutan pertanian dan keamanan pangan
terancam oleh rendahnya hasil pertanian, miskinnya pengelolaan sumber daya
tanah dan air, serta pendidikan tenaga kerja bidang pertanian yang berada di
bawah standar. Kondisi penduduk tersebut
juga sangat rentan terhadap bencana, seperti keringan, banjir, gempa bumi dan
tanah longsor. Teknologi informasi
dan komunikasi
dapat diterapkan dalam mendukung
manajemen sumber daya, pemasaran, penyuluhan dan mengurangi resiko
kehancuran untuk membantu negara-negara meningkatkan produksi pangan dan mengurangi ancaman
terhadap ketahanan pangan.
Manfaat
yang dapat diperoleh melalui kegiatan aplikasi teknologi informasi
dan komunikasi (Mulyandari 2005),
khususnya dalam
mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah:
1.
Mendorong terbentuknya jaringan informasi pertanian
di tingkat lokal dan nasional.
2.
Membuka akses petani terhadap informasi pertanian
untuk: 1) Meningkatkan peluang potensi peningkatan pendapatan dan cara
pencapaiannya; 2) Meningkatkan kemampuan petani dalam meningkatkan posisi
tawarnya, serta 3) Meningkatkan kemampuan petani dalam melakukan diversifikasi
usahatani dan merelasikan komoditas yang diusahakannya dengan input yang
tersedia, jumlah produksi yang diperlukan dan kemampuan pasar menyerap output.
3.
Mendorong terlaksananya kegiatan pengembangan,
pengelolaan dan pemanfaatan informasi pertanian secara langsung maupun tidak
langsung untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.
4.
Memfasilitasi dokumentasi informasi pertanian di
tingkat lokal (indigeneous knowledge) yang dapat diakses secara lebih luas
untuk mendukung pengembangan pertanian lahan marjinal.
HAMBATAN
DALAM APLIKASI TIK
Meskipun disadari TIK memiliki peranan yang
sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di
Indonesia masih belum dipertimbangkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan. Fakta yang agak mengejutkan adalah bahwa
aplikasi TIK memiliki kontribusi yang
tidak terukur secara ekonomi bagi
masing-masing GDPs. Dalam waktu yang sama, pemanfaatan TIK dalam pembangunan
pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas
karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun keterampilan dalam
bisnis secara elektronik (e-business).
Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural
Sciences (ISHS) telah mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam mengadopsi
TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan;
kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu,
biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Partisipan dari negara-negara maju menekankan
pada hambatan: tidak adanya manfaat ekonomi yang dapat dirasakan, tidak
memahami nilai lebih dari TIK, tidak cukup memiliki waktu untuk menggunakan
teknologi dan tidak mengetahui bagaimana mengambil manfaat dari penggunaan TIK.
Responden dari negara-negara
berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan
infrastruktur teknologi.”
Hasil kuesioner dari the Institute for Agricultural and Fisheries
Research sejalan dengan survei ISHS dan survey dari the European Federation for Information Technology in Agriculture
(EFITA) yang mengindikasikan adanya suatu pergeseran
dari kecakapan secara teknis TIK sebagai
suatu faktor pembatas menuju pada kesenjangan pemahaman bagaimana mengambil
manfaat dari pilihan TIK yang bervariasi (Taragola et al. 2009).
TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam pertanian modern
dan menjaga keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan. Namun demikian, untuk wilayah negara-negara
berkembang masih banyak mengalami kendala dalam aplikasinya untuk mendukung
pengembangan pertanian berkelanjutan.
Tantangan yang umum dihadapi adalah bahwa akses telepon dan jaringan
elektronik di perdesaan dan wilayah terpencil (remote area) sangat terbatas; telecenter yang menawarkan layanan TIK
masih langka karena biaya yang diperlukan akibat tingginya investasi dan biaya
operasional yang dibutuhkan. Kekurangan pada tingkatan lokal dalam aplikasi TIK
perlu dipikirkan dalam merancang strategi aplikasi TIK sesuai dengan kondisi di
lapangan yang spesifik lokasi baik melalui kapasitas teknologi tradisional, seperti siaran radio.
emerintah dan masyarakat perdesaan dapat bekerja bersama untuk melayani
pengguna atas dasar profitabilitas di samping ada unsur sosial untuk mendukung
keberlanjutan aplikasi TIK di tingkat perdesaan.
Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh
the International Society for
Horticultural Sciences (ISHS) hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh
petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan;
kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu,
biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Untuk responden dari negara-negara berkembang
menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur
teknologi (Taragola et al. 2009).
Beberapa
hambatan dalam aplikasi TIK untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan
yang berhasil diidentifikasi oleh Sumardjo et
al. (2009) secara ringkas adalah sebagai berikut:
1.
Belum
adanya komitmen dari manajemen di level stakeholders
managerial yang ditunjukkan dengan
adanya kebijakan yang belum konsisten.
2.
Kemampuan
tingkat manajerial pimpinan di level stakeholders
(khususnya di lingkup pemda
dan dinas kabupaten)
sebagian besar masih belum memiliki kapasitas di bidang teknologi informasi,
sehingga banyak sekali proses pengolahan input yang seharusnya dapat
difasilitasi dengan aplikasi teknologi informasi tidak diperhatikan dan bahkan
cenderung dihindari penerapannya.
3.
Sebagian
besar level manajerial belum
mengetahui secara persis konsep aplikasi teknologi informasi, sehingga
berimplikasi pada rendahnya aplikasi teknologi informasi untuk mendukung
operasionalisasi pelaksanaan tugas sehari-hari.
4.
Infrastruktur
penunjang tidak mendukung operasi pengelolaan dan penyebaran informasi
pertanian yang berbasis teknologi informasi, seperti misalnya pasokan listrik
yang masih kurang memadai, perlengkapan hardware
tidak tersedia secara mencukupi baik
kualitas maupun kuantitasnya, gedung atau ruangan yang tidak memadai, serta
jaringan koneksi internet yang masih sangat terbatas (khususnya untuk wilayah remote
area).
5.
Biaya
untuk operasional aplikasi teknologi informasi untuk akses dan pengelolaan
informasi yang disediakan oleh
pemerintah daerah khususnya sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan
ISP untuk pengelolaan informasi yang berbasis internet.
6. Infrastruktur
telekomunikasi yang belum memadai dan mahal. Kalaupun semua fasilitas ada,
harganya masih relatif mahal.
7. Tempat
akses informasi melalui aplikasi teknologi informasi sangat terbatas. Di beberapa tempat di luar negeri, pemerintah
dan masyarakat bergotong-royong
untuk menciptakan access point yang
terjangkau, misalnya di perpustakaan umum (public library). Di Indonesia hal
ini seharusnya dapat dilakukan di kantor pos, kantor pemerintahan dan
tempat-tempat umum lainnya.
8.
Sebagian
usia produktif dan yang bekerja di lembaga subsistem jaringan informasi inovasi
pertanian tidak berbasis teknologi informasi, sehingga semua pekerjaan jalan
seperti biasanya dan tidak pernah memikirkan efisiensi atau pemanfaatan teknologi
informasi yang konsisten.
9.
Dunia
teknologi informasi terlalu cepat berubah dan berkembang, sementara sebagian
besar sumber daya manusia yang ada di lembaga subsistem jaringan informasi
inoasi pertanian cenderung kurang memiliki motivasi untuk terus belajar
mengejar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga seringkali
kapasitas SDM yang ada tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi dan cenderung menjadi lambat dalam menyelesaikan tugas.
10. Kemampuan kapasitas SDM dalam aplikasi
teknologi informasi dan komunikasi, khususnya di level penyuluh pertanian
ataupun fasilitator tingkat desa sebagai motor pendamping pelaksana pembangunan
pertanian di daerah masih sangat terbatas.
11. Keterbatasan
kemampuan dan pengetahuan petani atau pengguna akhir dalam pemanfaatan
teknologi informasi dalam akses informasi inovasi pertanian dan mempromosikan produknya
ke pasar yang lebih luas.
12. Dari
segi sosial budaya, kultur berbagi masih belum membudaya. Kultur berbagi (sharing)
informasi dan pengetahuan untuk mempermudah akses dan pengelolaan informasi
belum banyak diterapkan oleh anggota lembaga stakeholders. Di samping
itu, kultur mendokumentasikan informasi/data juga belum lazim, khususnya untuk
kelembagaan yang berada di daerah.
REKOMENDASI APLIKASI
TIK DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
Keberlanjutan (sustainability) suatu intervensi aplikasi TIK memiliki
mempunyai dua aspek penting, yaitu: kemampuan dalam melanjutkannya dalam jangka panjang dan
kemampuannya untuk mengurangi sifat
mudah terlukanya (vulnerabilities) dari target beneficiaries. Adapun
kesadaran dan komitmen stakeholders,
ketepatan relevansi isi, penggunaan bahasa lokal dan upaya penyediaan akses
terhadap intervensi TIK adalah faktor kritis lain yang penting bagi keefektivan
dan kesuksesan dari suatu intervensi aplikasi ICT yang ditargetkan bagi
kehidupan masyarakat perdesaan.
Intervensi yang bersifat demand-driven
dalam fungsinya seperti halnya teknologi tepat guna (sesuai dengan yang dipilih
atau diinginkan pengguna) mempunyai prevalensi kesuksesan yang lebih tinggi (ENRAP 2009).
Perkembangan TIK seperti komputer dan teknologi
komunikasi, khususnya internet dapat digunakan untuk menjembatani informasi dan
pengetahuan yang tersebar di antara yang menguasai informasi dan yang tidak. Akses terhadap komunikasi digital
membantu meningkatkan akses terhadap peluang pendidikan, meningkatkan
transparansi dan efisiensi layanan pemerintah, memperbesar partisipasi secara
langsung dari ”used-to-be-silent-public”
(masyarakat yang tidak mampu berpendapat) dalam proses demokrasi, meningkatkan
peluang perdagangan dan pemasaran, memperbesar pemberdayaan masyarakat dengan
memberikan suara kepada kelompok yang semula tidak bersuara (perempuan) dan
kelompok yang mudah diserang, menciptakan jaringan dan peluang pendapatan untuk
wanita, akses terhadap informasi pengobatan untuk masyarakat yang terisolasi
dan meningkatkan peluang tenaga kerja (Servaes 2007).
Salah
satu yang direkomendasikan untuk implementasi TIK dalam pemberdayaan di negara
berkembang adalah sebuah telecenter atau pusat multimedia komunitas yang terdiri
atas desktop untuk penerbitan, surat
kabar komunitas, penjualan atau penyewaan alat multimedia, peminjaman buku,
fotokopi, dan layanan telepon/faks. Apabila memungkinkan dapat pula dilengkapi
dengan akses internet dan penggunaan telepon genggam untuk meningkatkan akses
pengusaha dan petani di perdesaan akses informasi untuk meningkatkan
kesejahterannya. TIK merupakan alat yang
sangat bermanfaat untuk knowledge sharing,
namun seringkali belum dapat memecahkan permasalahan pembangunan yang disebabkan
oleh isu sosial, ekonomi dan politik. Informasi pun seringkali belum dapat
digunakan sebagai pengetahuan karena belum mampu diterjemahkan langsung oleh
masyarakat (Servaes 2007).
Leeuwis (2004) menyatakan bahwa
pesan dan teknologi (inovasi) pertanian yang dipromosikan oleh agen penyuluhan
sering tidak sesuai dan tidak mencukupi.
Hal ini memberikan implikasi bahwa informasi yang ditujukan pada petani
dan agen penyuluh sangat terbatas karena beberapa faktor, di antaranya adalah:
staf universitas dari disiplin yang berbeda, peneliti yang terlibat, politisi,
pengambil kebijakan, agroindustri dan birokrat yang memainkan peranan dalam
proses promosi inovasi pertanian tersebut.
Konsekuensinya, inovasi yang
terpadu hanya dapat diharapkan muncul ketika berbagai aktor (termasuk petani),
yang dapat mempengaruhi kecukupan pengetahuan dan teknologi, bekerjasama untuk
memperbaiki kinerja kolektif. Untuk
mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki fungsi dari
sistem pengetahuan dan informasi pertanian (Agricultural Knowledge and
Information System–AKIS).
Sistem pengetahuan
dan informasi pertanian dapat berperan dalam membantu petani dengan
melibatkannya secara langsung dengan sejumlah besar kesempatan, sehingga mampu
memilih kesempatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi faktual di lapangan. Peningkatan efektivitas jejaring pertukaran
informasi antarpelaku agribisnis terkait merupakan aspek penting untuk
mewujudkan sistem pengetahuan dan informasi pertanian. Dengan dukungan implementasi TIK serta peran
aktif berbagai kelembagaan terkait upaya untuk mewujudkan jaringan informasi
inovasi bidang pertanian sampai di tingkat petani dapat diwujudkan. Keberhasilan proses knowledge sharing inovasi pertanian sangat bergantung pada peran
aktif dari berbagai institusi terkait yang memiliki fungsi menghasilkan inovasi
pertanian maupun yang memiliki fungsi untuk mengkomunikasikan inovasi
pertanian.
Rekomendasi
aplikasi TIK dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan adalah
aplikasi TIK yang mendorong terjadinya knowledge
sharing untuk meningkatkan fungsi sistem pengetahuan dan informasi
pertanian. Dengan demikian, aplikasi TIK tersebut dapat berperan dalam membantu
petani dengan melibatkannya secara langsung dengan sejumlah besar kesempatan,
sehingga mampu memilih kesempatan yang sesuai dengan situasi dan kondisi
faktual di lapangan. Peningkatan efektivitas jejaring pertukaran informasi
antarpelaku agribisnis terkait merupakan aspek penting untuk mewujudkan sistem
pengetahuan dan informasi pertanian.
Dengan dukungan TIK serta peran aktif berbagai kelembagaan pengetahuan
terkait pertanian dan kelembagaan-kelembagaan pendukung lainnya yang berpotensi
untuk bersinergi, upaya untuk mewujudkan jaringan informasi bidang pertanian
sampai di tingkat kelompok petani dapat diwujudkan. Keberhasilan proses knowledge sharing inovasi pertanian sangat bergantung pada peran
aktif dari berbagai institusi terkait yang memiliki fungsi menghasilkan inovasi
pertanian maupun yang memiliki fungsi untuk memproses dan mengkomunikasikan inovasi pertanian
berkelanjutan, khususnya penyuluh pertanian dan petani.
Berdasarkan
permasalahan yang masih banyak dihadapi dalam implementasi TIK untuk mendukung
pembangunan pertanian, maka aplikasi TIK dapat dilakukan secara bertahap sesuai
dengan kondisi kesiapan sumber daya yang ada di daerah. Aplikasi TIK diarahkan untuk mendukung
percepatan akses pelaku pembangunan pertanian terhadap sumber informasi yang
dibutuhkan sekaligus merupakan sarana untuk mempercepat proses pertukaran
informasi antarpihak-pihak terkait dalam proses pembangunan pertanian
berkelanjutan.
Mengingat
keterbatasan sumber daya dan pengetahuan pelaku pembangunan pertanian di level grass root, maka aplikasi TIK perlu
dimodifikasikan dengan media konvensional. Berbagai sarana telekomunikasi dan
media komunikasi dapat difungsikan untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan
di setiap level pelaku pembangunan pertanian.
Aplikasi TIK dapat diterapkan sampai di level kecamatan dalam bentuk
pusat-pusat informasi pertanian untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan
antara pelaku pembangunan pertanian sampai di tingkat kecamatan dengan pelaku
pembangunan pertanian di tingkat regional, nasional, bahkan global. Selanjutnya informasi yang diperoleh malalui
aplikasi teknologi informasi, misalnya internet dapat disederhanakan dan dikemas
kembali sesuai kebutuhan dan karakteristik pengguna akhir oleh penyuluh
pertanian atau fasilitator baik formal maupun nonformal. Informasi yang sudah
diolah dan dikemas kembali dalam format yang sesuai dengan karakteristik
pengguna dapat disebarkan lebih lanjut
melalui berbagai media komunikasi yang tersedia di tingkat pelaku
pembangunan pertanian sampai di tingkat petani. Sebaliknya, informasi yang
berasal dari pelaku pembangunan pertanian yang berada di grass root juga dapat
didokumentasikan sebagai indigenous
knowledge yang dapat dijadikan sebagai bahan pengambil kebijakan maupun
pengembangan pengetahuan lebih lanjut.
KESIMPULAN
Pembangunan
pertanian dan perdesaan yang berkelanjutan merupakan isu penting strategis yang
universal diperbincangkan dewasa ini.
Dalam menghadapi era globalisasi pembangunan pertanian berkelanjutan
tidak terlepas dari pengaruh pesatnya perkembangan iptek termasuk perkembangan
di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Integrasi yang efektif
antara TIK dalam sektor pertanian akan menuju pada pertanian berkelanjutan
melalui penyiapan informai pertanian yang tepat waktu relevan, yang dapat
memberikan informasi yang tepat kepada petani dalam proses pengambilan
keputusan berusahatani untuk meningkatkan produktivitasnya. TIK dapat
memperbaiki aksesibilitas petani dengan cepat terhadap informasi pasar, input
produksi, tren konsumen, yang secara positif berdampak pada kualitas dan
kuantitas produksi mereka. Informasi
pemasaran, praktek pengelolaan ternak dan tanaman yang baru, penyakit dan hama
tanaman/ternak, ketersediaan transportasi, informasi peluang pasar dan harga pasar
input maupun output pertanian sangat penting untuk efisiensi produksi secara
ekonomi.
Beberapa hambatan dalam aplikasi TIK untuk
mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah: belum adanya komitmen dari manajemen di level stakeholders managerial, SDM tingkat manajerial pimpinan di level stakeholders sebagian besar masih belum memiliki kapasitas
di bidang teknologi informasi, infrastruktur penunjang tidak mendukung operasi
pengelolaan dan penyebaran informasi pertanian yang berbasis teknologi
informasi, biaya untuk operasional
aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension yang disediakan oleh pemerintah daerah khususnya
sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan ISP untuk pengelolaan
informasi yang berbasis internet, tempat
akses informasi melalui aplikasi teknologi informasi sangat terbatas, dan dari segi sosial budaya, kultur berbagi masih
belum membudaya.
Mengingat
keterbatasan sumber daya dan pengetahuan pelaku pembangunan pertanian di level grass root, maka aplikasi TIK perlu
dimodifikasikan dengan media konvensional. Berbagai sarana telekomunikasi dan
media komunikasi dapat difungsikan untuk mempercepat proses berbagi pengetahuan
di setiap level pelaku pembangunan pertanian.
Komunikasi banyak langkah masih relevan untuk diterapkan dalam mendukung
percepatan proses berbagi pengetahuan di antara pelaku pembangunan pertanian
sehingga pembangunan pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Economic and Social Commission for
Asia and the Pacific (ESCAP).
2008. Information and Communication Technology for Food Security and
Sustainable Agriculture in the Knowledge Economy. “World Summit on the Information Society five
years on: Information and communications Technology for Inclusive Development”.
Committee on Information and Communications Technology. First session
19-21 November 2008 Bangkok
Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Kementerian Negara Riset dan Teknologi
Republik Indonesia. 2005. Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (Jakstranas Iptek 2005-2009).
Keraf AS. 2002.
Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Knowledge
Networking for Rural Development in Asia/Pacific Region (ENRAP). 2009. ENRAP
Networking Meeting among
Researchers and Practitioners on ICT for Rural Livelihoods (ICT4RL). [terhubung
berkala] 28 Agustus 2009. http://www.enrap.org/index.php?module=pnKnwMang&func=display Resource&kid=612&cid=173
Leeuwis C. 2004. Communication
for Rural Innovation. Rethinking Agricultural Extension. Third Edition. Blacwell Publishing Ltd.
Maureen. 2009. How Can ICTs Promote Sustainable
Agriculture? http://www.citizenjournalismafrica.org/blog/%5Buser%5D/05-aug-2009/1856
Mulyandari RSH. 2005. Alternatif Model Diseminasi Informasi
Teknologi Pertanian Mendukung Pengembangan Pertanian Lahan Marginal. Prosiding Seminar Nasional Pemasyarakatan
Inovasi Teknologi dalam Upaya Mempercepat Revitalisasi Pertanian dan Perdesaan
di Lahan Marginal, Mataram, 30-31 Agustus 2005.
Munasinghe M. 1993. Environmental
Economics and Sustainable Development.
Purbo OW.
2002. Kekuatan Komunitas Indonesia di Dunia Maya. Panatau, 2(22).
Servaes J. 2007. Harnessing the UN System Into a Common
Approach on Communication for Development.
International Communication Gazette 2007; 69; 483.
Sigit Indra M, Widodo S, Wibisono A.
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 3 Agustus 2006]. [terhubung berkala] 26 Agustus 2009. http://www.gatra.com/2006-08-08/versi_cetak.php?id=96869.
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 3 Agustus 2006]. [terhubung berkala] 26 Agustus 2009. http://www.gatra.com/2006-08-08/versi_cetak.php?id=96869.
Sumardjo, Bhaga LM, Mulyandari RSH. 2009.
Laporan Akhir Kegiatan pengkajian Cyber
Extension Mendukung Revitalisasi Penyuluhan Pertanian.
Departemen Pertanian.
Taragola DVL, Gelb E.
2009. Information and communication
Technology (ICT) adoption in Horticulture: comparison of the EFITA, ISHS, and
ILVO questionnaires. [terhubung berkala] 26 Agustus 2009.
Technical Advisorry
Committee of the CGIAR (TAC-CGIAR).
1988. TAC, CGIAR Policy on Plant Genetic Resources, TAC Doc.
AGR/TAC:IAR/88/4 Feb.1988.
UPIPD– Telecenter
Kelayu Selatan. 2009. Laporan Telecenter
P4MI Kelayu Selatan Bulan Juni 2009.
P4MI Lombok Timur.